Selamat Hari Sumpah Pemuda

By : Muhammad Cahya |on 28 October, 2013 08:29 |Category : News |Rating: 5
Selamat Hari Sumpah Pemuda

Jas Merah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Demikian Ir. Soekarno, Sang Proklamator sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia ini pernah berpesan.

Pada kenyataannya, memang banyak orang yang belajar sejarah. Bahkan mungkin sampai hapal di luar kepala. Kapan peristiwanya, tempat terjadinya di mana, siapa tokohnya, dan hasilnya apa. Tahu semua. Sampai detail-detailnya. Tapi, apa benar ini makna yang tersirat dari pesan ‘Jas Merah’ nya Bung Karno? Benarkah kita cuma dituntut untuk bisa mengingat sesuatu yang hanya berhubungan dengan apa, siapa, berapa, di mana, bilamana, dari mana, hingga sampai pada ke mana?

Banyak orang belajar sejarah. Tapi sedikit orang yang mau belajar dari sejarah. Sedikit orang yang tertarik untuk belajar menjawab pertanyaan ‘mengapa’ serta ‘bagaimana’. Padahal sejarah selalu jujur. Sejarah akan selalu bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan kita dengan kebenaran. Sejarah akan memberikan pilihan-pilihan jawaban atas setiap pertanyaan yang kita ajukan berikut konsekuensinya. Sejarah selalu jujur, bahkan terhadap pembohong sekalipun.

Kita bisa saja membelokkan sejarah. Kita juga bisa mengubah atau mungkin malah menutupinya. Tapi sejarah tetaplah sejarah. Sekali-kali ia tak pernah bicara dusta. Cepat atau lambat, waktu yang akan membuka. Dan sejarahlah yang kemudian membuktikan kebenaran sejarahnya.

28 Oktober 1928 adalah sejarah. Sejarah yang terinspirasi pula oleh sejarah. Para pelaku sejarah yang menyadari tentang pentingnya persatuan dan kesatuan untuk meraih sebuah kemerdekaan. Perlawanan menentang penjajahan yang bersifat kedaerahan adalah bukti gagalnya perjuangan. Maka strategi pun diubah. Siasat diperbarui dan taktik perjuangan model kedaerahan mulai ditinggalkan. Rasa senasib sepenanggungan sebagai bangsa yang terjajah, merupakan modal kuat untuk bersatu.

Maka berkumpullah para pemuda pada masa itu dalam sebuah kongres yang dinamakan Kongres Pemuda II. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan-perwakilan dari organisasi kepemudaan. Di antaranya Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan Jong Ambon. Kongres ini akhirnya menghasilkan ikrar bersama yang dinamakan Sumpah Pemuda. Dalam pertemuan ini pula lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan oleh W.R. Supratman di depan peserta kongres.

Adapun butir-butir yang terkandung dalam Teks Sumpah Pemuda ini berbunyi:

  1. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
  2. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
  3. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Isi Teks Sumpah Pemuda tersebut secara tegas membulatkan tekad para pemuda, bahwa meskipun berasal dari pelbagai suku, golongan atau organisasi; tetapi pada hakikatnya tetap satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Persamaan tekad dan pengakuan inilah yang pada akhirnya membawa keluhuran cita-cita yang sama, yakni kemerdekaan Indonesia. Dan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan secara resmi untuk pertama kalinya itu, semakin menambah semangat para pemuda untuk segera mewujudkan cita-citanya.

Sejarah lalu mencatat. Cita-cita luhur ini akhirnya menjadi nyata pada 17 Agustus 1945, + 17 tahun sejak dikumandangkannya Sumpah Pemuda.